November 23, 2012

Saudara yang hilang akankah kembali?


Kisah ini mengenai 12 manusia yang ditempa oleh angin gunung, terik matahari, air hujan, dan api parafin. Kisah ini mengenai kami saudara-saudara shio ular angkatan XXXIII, MAPASADHA. Tulisan ini merupakan refleksi sepenggal perjalanan saudara-saudara shio ular.


Kami adalah Bidur, Celnah, Lacuk, Kocer, Brontok, Pektay, Pantet, Berok, Gacer, Sikur, Jeron, dan Silis. Awalnya saya hendak menerangkan siapa yang laki-laki dan siapa yang perempuan, namun akhirnya saya memutuskan untuk tidak menyatakannya. Saya pikir itu tidak penting. Yang terpenting adalah kami bersaudara.


Kami melewati banyak dinamika, tepatnya 9 dinamika. Enam dinamika adalah dinamika dalam materi ruang, dan tiga dinamika adalah dinamika dalam aplikasi lapangan. Sembilan dinamika itu berlangsung selama 3 bulan, mulai bulan September 2012 hingga bulan November 2012. Sungguh, bagi saya pribadi waktu tiga bulan bersama adalah saat-saat yang menantang. Ya, sungguh menantang rasa ingin tahu, rasa ingin mengenal, dan rasa persaudaraan. Ada banyak fase telah kami lalui hingga saat ini, hingga saya yakin mengatakan bahwa kami telah menjadi saudara.


Saudara lebih dari sekedar teman. Saudara tidak sama dengan kekasih. Saudara adalah sahabat sejati. Saudara dilahirkan untuk saling melengkapi. Saudara yang satu melengkapi saudara yang lain. Saudara diciptakan untuk mampu memahami dan mendengarkan. Dalam persaudaraan yang sejati ada rasa kebersamaan, ada rasa peduli, ada canda tawa, ada tangis sedih, ada keluh kesah, dan ada kejujuran. Kami berjuang untuk mempertahankan persaudaraan kami. Saya sungguh lengkap dengan keberadaan saudara di samping saya. Saya menjadi kuat dalam menghadapi persoalan. Seolah-olah tidak ada keraguan di dalam hati saya, karena saudara saya memberi kekuatan.


Entah apa yang membuat kami tidak utuh lagi ber-12. Entah apa yang sesungguhnya Pektay dan Pantet rasakan saat ini. Memang telah diungkapkan oleh Pektay bahwa dia tiba-tiba kehilangan motivasi diri untuk melanjutkan 1 langkah lagi, yaitu Masa Orientasi Sembilan Hari di Gunung Ungaran. Bagi Pektay, dinamika di dalam MAPASADHA tidak sesuai harapannya. Bagi saya, harapan itu untuk diwujudkan, bukan untuk ditemukan. Lagipula, saya yakin bahwa 9 dinamika yang telah kami lalui bersama tidak cukup mewakili seluruh dinamika yang ada di dalam MAPASADHA.


Lain cerita dengan Pantet. Setelah aplikasi lapangan ketiga di Goa Cerme dan Parang Ndok, Pantet masi berwajah penuh semangat dan antusias. Bahkan Pantet mencetuskan ide kepada kami untuk mengadakan aplikasi lapangan sendiri, yang akan disebut aplikasi lapangan ke-4. Pantet mengusulkan di dalam aplikasi lapangan ke-4 kegiatannya adalah bergembira bersama, masak bersama, makan bersama, tidur dalam bivak yang sama, dan hal-hal lain yang dilakukan  dalam kebersamaan kami berduabelas (ber-12). Memang aplikasi lapangan keempat buatan kami ini akan dilakukan untuk mengajak Pektay kembali bersama dalam persaudaraan. Akan tetapi, apa yang terjadi, Pantet juga mengundurkan diri mengikuti jejak Pektay. Ya persis pada saat kami berkomunikasi bersama ber12 di kantin Realino. Dalam komunikasi itu, Pektay mengungkapkan alasannya mengundurkan diri dan sesaat setelah itu Pantet tiba-tiba terlihat murung padahal semula dia nampak baik-baik saja. Setelah Pektay selesai mengungkapkan maksudnya mengundurkan diri, giliran Pantet juga mengungkapkan dia sudah tidak sanggup mengikuti dinamika ini. Saya bertanya-tanya kenapa ini?! Ada apa lagi?!

Pantet mengungkapkan alasannya waktu itu dengan wajah murung, kepala tertunduk, dan suara parau yang hampir tidak terdengar oleh kami. Alasannya, dia punya tanggungjawab besar di dalam keluarga, dia menjadi tidak fokus di dalam perkuliahan, dia menjadi sulit untuk mengatur waktu. Begitu alasannya. Sungguh Pantet dalam kondisi yang berbeda saat itu. Saya tidak begitu menyukai caranya mengungkapkan alasannya kepada kami saudara-saudara yang lain. Seolah-olah kami ini tidak layak untuk dipandang. Seolah-olah kami telah mempermalukannya. Seolah-olah kami musuhnya. Bukan Pantet! Kami bukan musuhmu, melainkan saudaramu. Kami juga berjuang untuk pendidikan melalui kegiatan belajar dalam perkuliahan sama sepertimu. Kami juga mahasiswa. Kami juga punya keluarga. Kami juga punya tanggungjawab terhadap keluarga dan diri kami sendiri. Tidak tahukah itu kamu, Pantet? Belum cukupkah waktu kita bersama untuk mengetahui hal-hal sederhana tersebut?

Saya pribadi tetap menjadikan Pektay dan Pantet sebagai saudara saya. Saya yakin saudara-saudara lainpun menjadikan mereka berdua juga sebagai saudara. Saya menghargai Pektay dan Pantet sebagai pribadi yang merdeka. Pribadi yang mampu menentukan arah hidupnya sendiri. Saya menhargai pilihan Pektay dan Pantet, walaupun sebenarnya alasan mereka masih tidak dapat saya mengerti dengan baik hingga saat ini. Saya pun meyakini bahwa Pektay dan Pantet tetap menjadikan saya dan saudara-saudara yang lain tetap sebagai saudara.

Masa Orientasi Sembilan Hari di Gunung Ungaran semakin dekat dari waktu ke waktu. Masa orientasi akan dilaksanakan pada tanggal 26 Januari 2012 sampai dengan 3 Februari 2012. Pektay dan Pantet, belum terlambat untuk kalian kembali bergabung dalam dinamika bersami kami. Mengikuti orientasi tidak membuat kalian menjadi saudara kami, karena kita sudah menjadi saudara. Mengikuti orientasi adalah untuk makin mempererat persaudaraan kita dan mengasah kemampuan kita dalam berkegiatan di alam bebas.

Marilah saudaraku, kembalilah bersama kami. Tidak ada Yudas Iskariot di antara kita. Tidak ada permusuhan di antara kita bukan? Janganlah ragu karena kita semua bersaudara.

-hprabha-

2 komentar:

  1. iiihh.. 2 malam yg mengubah semuanya :( harusnya malam-malam itu nggak ada.

    BalasHapus
  2. emmm emmm emmm..

    Saya mau sharing sedikit, tapi apa yang saya rasakan mungkin tidak sedalam anda.
    Semenjak menduduki bangku sekolah dasar, saya berharap bahwa saya bisa menemukan seorang Sahabat yang secara idealnya bisa ada disaat kapanpun, baik suka maupun duka. Saya mencoba menjalin hubungan pertemanan dengan seorang teman namun ternyata hubungan tersebut tergerus oleh waktu. Saat kami menginjak bangku SMP, kami bahkan jarang bertegur sapa dan hubungan kami tidak seakrab waktu SD. Hal yang sama juga saya harapkan sewaktu saya bersekolah di SMP dan SMA, dan bahkan hingga kuliah ini. Saya berharap saya bisa menemukan seorang teman yang bisa menjadi sahabat saya. Bukan hanya waktu saya SMP, SMA atau kuliah saja, namun sampai tua. Tetapi tampaknya keberuntungan tidak berpihak kepada saya, karena hingga saat ini saya belum bisa menemukan seorang teman yang mampu menjadi sahabat yang baik.

    Saat saya melayani di FKPK, semua orang yang ada disana bilang bahwa mereka seperti memiliki keluarga kedua. Namun apa yang terjadi? Saat ada masalah mereka memilih untuk saling menjatuhkan dan menghilang. Saya tidak tahu tetapi yang terjadi adalah perkataan sebagai keluarga yang sering didengungkan itu hanyalah omong kosong.

    Saya tahu bahwa anda dan teman-teman anda sudah bersama-sama mengalami perjalanan yang tidaklah mudah. Namun justru dengan adanya masalah seperti ini, mungkin rasa persaudaraan kalian kembali ditantang dan dipertanyakan. (*Tantangan yang ada di alam mungkin akan dengan mudah kita selesaikan, namun hubungan kita dengan manusia??)

    Pada dasarnya manusia punya hak individu lho...

    Namun, semua masalah pasti bisa dibicarakan, asalkan dengan cara dan startegi yang tepat.

    Jadilah lebih bijak dan lebih cerdas dalam mengkomunikasikan segala sesuatu....
    dan jangan lupa untuk berpikiran terbuka serta mau mendengarkan orang lain....

    Salam

    BalasHapus