Tampilkan postingan dengan label Wreck Mind. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wreck Mind. Tampilkan semua postingan

Oktober 29, 2013

Do what is right, not what is easy


Do right

From the very start
Have purpose in your heart
To do what’s right and never question why
Never count the cost though everything seems lost
The price for doing right is sometimes high

Chorus:
Do right till the stars fall
Do right till the last call
Do right till there’s no one else to stand by you
Do right when you’re all alone
Do right though it’s never known
Do right since you love the Lord
Do right, do right

Right is always right and wrong is always wrong so we must learn to separate the two
If you love the right, the Lord will give you the light so seek the right in everything you do


writer: no name
composer: no name

Mei 10, 2013

Whom do I want to meet to?


Whom do I want to meet to?
I do idol Mr. Soekarno whom was the first president of Indonesia. I never met him before because he had passed away long ago before I was born in 1988. I was born in the Mr. Soeharto era. He was the second president of Republic of Indonesia after Mr. Soekarno government.
Even though I didn’t live in the Mr. Soekarno era, I know about Mr. Soekarno from his history. He was a great president and a great leader. He was so nationalism. He believed to Indonesian people power. He believed that the Indonesia citizens could be a great nation in the world if each people could be nationalist and struggle the sovereignty of Indonesia through our works and our love to this country. Everyone should fight out of love for their country, Indonesia.
That’s why I do idol Mr. Soekarno, even I have ever read that Mr. Mahatma Gandhi told,” In a thousand years forward, Indonesia will not have a great leader such as Soekarno.” Mr. Soekarno was so respected by many people from many nations.
If I am able to turn the time back, I am going to meet Mr. Soekarno and ask him to have discussion with me. I want to ask a lot of questions about Pancasila (or Five Principles) and his perspective about Indonesian people. Then I’m going to tell him what is happening in the Indonesian future, in this era.
I would like to listen to his opinions about Indonesia. I want to prevent Indonesia from destruction through our believing to our own potencies and power. I think Mr. Soekarno had many good ways to make Indonesian people believe in their potencies. Together, we are going to be strong. We should not make a problem of differences among us. Each person was born different to others, but it is not a problem. We are able to declare our way of thinking and act freely; nevertheless we should respect each other. We have to remember the most important thing. That is we are born as Indonesian. We should thank and proud to be Indonesian. We have the same purpose, it is serving to Indonesia.
written by: Damar
 
 

Februari 27, 2013

Saya dan Perubahan (wreck mind)


pointortwo.com


Saya dan Perubahan
(bagian 2)
Ketiga alasan yang disampaikannya padaku, sungguh membuatku makin bimbang. Kekhawatiran dan ketakutan di dalam hatiku semakin besar. Berbagai pertanyaan makin banyak muncul tak beraturan. Jangankan untuk menjawabnya, bahkan untuk menghentikannya pun aku tidak mampu.

Bagaimana seorang manusia dikatakan baik atau pun jahat? Apakah manusia yang baik adalah manusia yang mentaati hukum, menghormati orang tua, berperilaku sopan dan lembut, berkata-kata hal yang membahagiakan orang lain, tidak membunuh, tidak berzinah, tidak mencuri, tidak mengingkari janjinya, tekun belajar, berpakaian sopan, dan tekun beribadah? Itukah manusia yang baik?

Lalu bagaimana dengan manusia yang jahat? Apakah manusia yang jahat itu manusia yang melanggar hukum, merendahkan orang tua, menyepelekan orang lain, berperilaku biadab dan kasar, berkata-kata hal-hal yang menyusahkan orang lain, membunuh, berzinah, mencuri, mengingkari janjinya, malas belajar, berpakaian tidak sopan, dan tidak beribadah padahal beragama atau bahkan manusia yang tidak beragama? Itukah manusia yang jahat?

 Kemudian, dari mana asal “baik” dan “jahat”? Mengapa ada “baik” dan “jahat”? Apakah asal hal-hal baik itu dari Tuhan? Jika Tuhan hanya menguasai hal-hal baik, maka ada penguasa lain yang menguasai hal-hal jahat. Itu berarti Tuhan bukan sosok Yang Maha Kuasa. Tuhan menjadi Yang Maha Kuasa bila Tuhan menguasai hal-hal baik dan hal-hal jahat. Bila Tuhan menguasai baik dan jahat, mengapa ada kata “benar” dan “salah”? Mengapa jahat dikatakan salah? Bukankah asal jahat juga dari Sang Penguasa yang juga merupakan asal baik?

Untuk apa aku memperjuangkan hal-hal yang tidak aku pahami? Sejak dahulu para ilmuwan berjuang untuk hal-hal yang mereka imani. Thomas Alva Edison mengatakan,” I have not failed. But I've just found 10,000 ways that won’t work.” Thomas mampu mengimani karena dia mengetahui dan dia memahami apa yang dia lakukan. Sedangkan aku, aku tidak paham ucapan Perubahan, kawan baruku.

Aku harus menemuinya lagi. Aku harus memaksanya untuk menjelaskan kepadaku apa yang dikatakannya. Sekarang, hati dan pikiranku benar-benar hancur. Aku tidak mampu mengenalinya lagi. Aku tidak mampu mengikutinya. Aku tidak mampu mendengarkannya lagi. Mungkin, hanya satu jalan penyelesaiannya, yaitu dengan BERUBAH walaupun aku tidak mengerti mengapa aku perlu PERUBAHAN.
-sejenak berpijak-
Tuhan, seringkali aku tidak tahu apa arti hidupku ini dan apa yang harus aku perbuat. Di jalanMu, Tuhan, kuingin kedamaian.

thinksmartfeelgoodlivewell.blogspot.com
 

Saya dan Perubahan (wreck mind)



craigdesmarais.com

Saya dan Perubahan
(bagian 1)
Saya bertemu kawan baru. Ya baru-baru ini saja. Perkenalkan, nama kawan baru saya adalah Perubahan. Kawan baru saya ini sungguh berbeda dengan saya, mulai dari cara berpikir, cara bertindak, dan cara berkata-kata. Seringkali, kawan saya ini berlawanan dengan saya. Ketika saya berinteraksi dengan dia, selalu saja dia menyatakan hal-hal baru yang bertentangan dengan yang saya lakukan selama ini. Ya mungkin sesuai dengan namanya, Perubahan. Dia selalu menawarkan dan mengharuskan saya melakukan perubahan.

Mengapa dia selalu menawarkan dan mengharuskan saya untuk melakukan perubahan? Nah inilah jawabannya. Pertama, dia mengatakan saya adalah manusia. Manusia yang baik adalah manusia yang dinamis. Dinamis dalam hal cara berpikir, cara berperilaku, dan cara berkomunikasi. Maksudnya adalah saya dianjurkan untuk selalu berefleksi. Saya diharuskan untuk merefleksikan tiap perilaku saya, termasuk cara berkomunikasi dengan sesama manusia, dan cara menilai sesama manusia. Jika saya bersikap monoton, saya dikatakan manusia yang statis. Lalu kemudian saya disebut sebagai manusia yang tidak baik. Kata lain dari tidak baik adalah jahat. Berarti, saya jahat kalau monoton dan saya baik kalau dinamis. Begitu kata kawan baru saya.

Kedua, Perubahan melihat saya sebagai seorang manusia yang beruntung karena saya berkesempatan mengenyam pendidikan, bahkan hingga saat ini saya adalah mahasiswa. Perubahan melihat predikat saya sebagai mahasiswa sebagai alasan kuat saya harus menjadi manusia yang dinamis. Mengapa? Mahasiswa idealnya mampu untuk membaca dan menulis. Mahasiswa idealnya mampu untuk bergaul dan berinteraksi dengan banyak manusia. Mahasiswa tentunya mampu menentukan sikap. Mahasiswa tentunya mampu dan menguasai kegiatan belajar. Mahasiswa seharusnya mempunyai prinsip dasar yang kuat tentang apa itu hal berguna dan tidak berguna. Mahasiswa sudah sewajarnya mampu berpikir dan bersikap dewasa. Dari semua kemampuan yang dikuasai mahasiswa tersebut, tentunya tidak sulit bagi mahasiswa untuk memperoleh pengetahuan. Berarti, tidak ada alasan untuk saya tidak melakukan perubahan.
Mendengarkan alasan pertama saja saya sudah bingung, apalagi mendengarkan alasan keduanya. Ampun.. ampun… Saya merasa tertekan dengan kedua alasannya. Ketakutan seketika muncul di dalam diri saya. Ketakutan menguasai saya. Kekhawatiran pun menyelimuti hati saya. Begitu banyak pula pertanyaan-pertanyaan muncul di dalam otak saya. Apa itu jahat menurutnya? Apa itu baik?  Bagaimana manusia yang baik itu? Mengapa statis itu jahat? Mengapa dinamis itu baik? Mengapa ada jahat? Mengapa ada baik? Dari mana asal jahat dan baik?

Perubahan terlihat seolah dia mengerti kekhawatiran dan ketakutan saya serta berbagai pertanyaan yang  muncul dari otak saya yang belum saya ungkapkan. Bukannya berusaha untuk menjelaskan kedua alasan yang dia sampaikan, justru dia menyampaikan alasan ketiganya. Perubahan berkata,” Kamu orang beragama kan? Jika ya, berarti kamu percaya Tuhan itu ada. Entah kamu mengimani Tuhan atau tidak. Tentunya pengetahuanmu sebagai seorang berpendidikan dan beragama cukup bisa menjelaskan segala kekhawatiran, ketakutan, dan berbagai pergulatan di dalam hati dan otakmu.” Tak cukup berkata demikian, dia menambahkan lagi. “Jika pengetahuanmu sebagai orang berpendidikan dan beragama tidak mampu membuatmu untuk melakukan perubahan, itu berarti kamu perlu merefleksikan kembali hidupmu. Hentikan sejenak perilaku hidupmu saat ini. Belajarlah lebih tekun. Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam. Berubahlah.”

-sejenak berpijak-
Benarlah perkataan ini:
“Jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia; jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal kita;
jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diriNya.”
2 Tim 2:11-13
mobavatar.com

Februari 17, 2013

Persaudaraan di dalam sebuah Komunitas




Persaudaraan di dalam sebuah Komunitas

Persaudaraan adalah hubungan antar sesama manusia yang dilandasi dengan sikap menghargai satu sama lain melalui tutur kata dan perilaku. Itu menurut saya. Tanpa sikap saling menghargai satu sama lain, mustahil akan terwujud persaudaraan yang jujur dan tulus, persaudaraan tanpa kepura-puraan dan kecurigaan.
Kembali menyadari apa kebutuhan dasar manusia selain makan, minum, dan berpakaian. Manusia juga membutuhkan untuk dihargai keberadaannya. Bagaimana cara menghargai keberadaan manusia lain di sekitar kita? Tentunya melalui menyapa, mendengarkan, dan memperhatikannya. Sudah banyak orang tahu bagaimana cara menghargai manusia, namun seringkali hal-hal tersebut sulit untuk diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Hal tersebut sulit untuk dilakukan karena terkadang seorang pribadi atau manusia hanya ingin disapa,  didengarkan, dan diperhatikan.

Seorang manusia hidup di dunia ini bersama-sama dengan manusia-manusia yang lain, bersama tumbuh-tumbuhan, binatang-binatang, dan alam semesta. Saya menyadari bahwa dunia ini sesungguhnya juga merupakan sebuah komunitas. Komunitas yang besar, terdiri dari segala makhluk ciptaan Tuhan (tidak hanya manusia). Manusia tidak hidup sendiri. Dunia  bukan merupakan komunitas milik manusia saja, namun milik semua yang hidup dan tinggal di dunia ini.

Di dalam komunitas besar yang saya pahami sebagai dunia ini, terdapat komunitas-komunitas kecil buatan manusia. Komunitas-komunitas dibuat berdasarkan kesaamaan visi, kesamaan minat atau hobby, bahkan kesamaan daerah asal maupun kesamaan suku atau kesamaan asal sekolah, tempat kerja, dan sebagainya. Dari contoh-contoh di atas, dapat dilihat bahwa terbentuknya sebuah komunitas karena kesamaan, bisa secara kesamaan fisik maupun kesamaan visi (pandangan, ideologi, dsb.). Jarang atau mungkin justru tidak ada komunitas yang dibentuk berdasarkan ketidaksamaan.

Desember 18, 2012

Jujur sajalah


Honest is not fade away.

Persoalan dalam kehidupan kita sehari-hari muncul dari interaksi kita dengan diri sendiri, orang lain,dan bahkan dengan benda-benda atau pun tumbuhan dan hewan. Persoalan muncul karena kita berinteraksi, berpikir, dan bertindak. Munculnya persoalan itu wajar.

Namun, yang menarik di sini adalah saat persoalan menjadi rumit. Apakah penyebab persoalan menjadi rumit? Dari sudut pandang saya, salah satu penyebabnya adalah lunturnya keberanian untuk jujur. Mungkin saja kita takut berkata jujur karena akan dinilai seolah-olah jagoan, seolah-olah orang paling baik, seolah-olah orang yang mengerti segala sesuatu, seolah-olah tidak mempunyai kesalahan, dan seolah-olah yang lainnya.

Menjadi rumitnya suatu persoalan dapat disebabkan oleh lunturnya keberanian untuk jujur. Silahkan berimajinasi tentang seorang teknisi mesin industri yang akan memperbaiki kerusakan pada mesin yang baru saja dia jumpai. Teknisi itu tentu butuh waktu untuk mempelajari mekanisme kerja mesin tersebut dan menganalisa penyebab kerusakan, setelah itu barulah dia mulai memperbaiki mesin tersebut. Mengapa prosesnya harus sepanjang itu? Sederhana saja, hal itu disebabkan karena mesin tersebut tidak memiliki kehendak untuk berkata-kata apalagi untuk bersikap jujur. Hahaha... Benar kan?!

Kita sebagai manusia yang memiliki kehendak untuk bersikap jujur seringkali tidak menggunakannya demi nilai-nilai kebenaran yang sudah tertanam di dalam diri kita sejak lahir. Justru, kita seringkali memilih untuk tidak bersikap jujur dengan alasan demi kebaikan, demi harga diri kita, demi mendapatkan nilai yang tinggi (menyontek misalnya), demi memperoleh keuntungan (menipu misalnya), dan demi kepentingan diri kita sendiri sebenarnya.

Dengan kita jujur, persoalan akan menjadi sederhana, namun bukan berarti sepele dan dapat dihiraukan. Bukan itu yang saya maksud. Akan tetapi, apabila setelah kita memilih bersikap jujur namun persoalan justru bertambah rumit, tenanglah dahulu. Pahamilah bahwa kerumitan persoalan tidak ada di dalam diri kita (yang sudah jujur), namun terletak pada mereka yang belum jujur dan belum mampu menerima kejujuran.

Dengan bersikap jujur tidak akan membuat kita suci. Bersikaplah jujur tanpa pamrih. Jujurlah karena itulah yang terjadi sesungguhnya.

-hprabhadamar-